oleh

Dansatrol Bitung Akui Kelalaian dan Minta Maaf atas Polemik Ucapan Menyudutkan Suku Jawa! Reza: Kami Tuangkan Cinta Pada Institusi Lewat Kritik Bukan penjilatan

-Bitung-15 Dilihat
banner 468x60

LacakFakta.com/Bitung, Sulawesi Utara — Polemik terkait ucapan Dansatrol Bitung yang dinilai menyudutkan suku Jawa akhirnya berakhir melalui dialog dan klarifikasi secara langsung bersama Ketua PWO IN Sulawesi Utara, Reza Lumanu, serta sejumlah tokoh dan perwakilan masyarakat Jawa.

Pertemuan yang berlangsung dalam suasana terbuka dan penuh kekeluargaan tersebut menjadi momentum penyelesaian secara bijaksana atas kegaduhan yang sempat berkembang di tengah masyarakat maupun dunia jurnalistik. Minggu 24 Mei 2026.

banner 336x280

Dalam dialog tersebut, Dansatrol Bitung menegaskan bahwa beredarnya berbagai counter narasi dari sejumlah media bukan merupakan instruksi maupun pernyataan langsung darinya. Ia mengklaim bahwa pemberitaan dan opini yang berkembang merupakan sikap pribadi dari masing-masing pemegang media dan bukan bagian dari arahannya secara langsung.

Selain itu, Dansatrol Bitung juga mengakui adanya kelalaian dalam penyampaian ucapan yang menimbulkan penafsiran negatif dan dianggap menyinggung keluarga besar suku Jawa. Di hadapan Ketua Kerukunan Jawa sebagai simbol perwakilan masyarakat Jawa, ia secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh keluarga besar Jawa atas ucapan tersebut.

Ketua PWO IN Sulut, Reza Lumanu, dalam penyampaiannya menekankan pentingnya profesionalisme dan kehati-hatian dalam menyampaikan pernyataan kepada publik, terlebih bagi figur yang memiliki posisi dan pengaruh di tengah masyarakat.

“Lebih profesional dan berhati-hati. Nyamuk mati dengan tepuk tangan,” tegas Reza Lumanu.

Menurutnya, kebebasan pers dan sudut pandang jurnalistik merupakan bagian dari kontrol sosial yang sah dalam negara demokrasi. Ia menegaskan bahwa karya jurnalistik lahir dari hak wartawan untuk menuangkan fakta, kritik, dan koreksi demi menjaga marwah institusi agar terus berkembang menjadi lebih baik.

“Jurnalis memiliki hak dan sudut pandang dalam menuangkannya ke dalam karya jurnalistik atau pemberitaan. Kritik dan koreksi adalah bentuk cinta kepada institusi agar menjadi lebih baik, bukan dengan penjilatan dan puji-pujian,” ujarnya.

Pertemuan tersebut ditutup dengan komitmen bersama untuk menjaga persatuan, menghormati keberagaman, serta memperkuat hubungan baik antara masyarakat, media, dan institusi. “Dari dialog lahir pemahaman, dari klarifikasi tumbuh persatuan.”

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *