oleh

Jaringan Gudang Penimbunan BBM PT. Srikarya Lintasindo Makin Terkuak, Tontalete Minut Diduga Jadi Basis Baru Nama Diego, Haji Nur hingga Bayang-Bayang Mantan Dewan GM Muncul

-Bitung-35 Dilihat
banner 468x60

LacakFakta, com/Bitung — Praktik dugaan penimbunan dan penjualan BBM bersubsidi secara ilegal yang dikendalikan jaringan PT. Srikarya Lintasindo (PT.SKL) kini semakin terbuka. Setelah sebelumnya aktivitas serupa terendus di wilayah Matuari dan Madidir, Kota Bitung, kini perhatian publik mengarah ke gudang penimbunan di wilayah Tontalete, Minahasa Utara, yang diduga menjadi salah satu basis distribusi utama jaringan tersebut. Senin 11 Mei 2026.

Nama Haji Nur kembali disebut sebagai figur sentral yang diduga mengendalikan aktivitas penyalahgunaan BBM Bio Solar bersubsidi di sejumlah wilayah Sulawesi Utara. Meski sebelumnya pernah ditahan Polresta Manado serta sempat diamankan Polda Sulut bersama sejumlah kendaraan truk tangki kepala biru berkapasitas 8.000 KL dan terbongkarnya gudang penimbunan di Desa Koka, Manado, jaringan yang diduga berada di bawah kendalinya justru disebut semakin berkembang.

banner 336x280

Melalui investigasi awak media, PT. Srikarya Lintasindo diduga menjalankan pola operasi berpindah-pindah lokasi dengan menampilkan figur berbeda di tiap wilayah guna mengaburkan identitas pengendali utama.

Di wilayah Tontalete, figur yang ditampilkan sebagai pengelola gudang diketahui bernama Diego. Sosok tersebut diduga merupakan kaki tangan Haji Nur yang dipercaya mengatur aktivitas gudang penimbunan BBM, mulai dari distribusi, keluar masuk kendaraan tangki, hingga koordinasi pasokan BBM dari para pengepul.

Namun fakta yang lebih mengejutkan mulai terkuak setelah muncul dugaan adanya bayang-bayang mantan anggota dewan Kota Bitung berinisial GM di balik aktivitas gudang Tontalete. GM disebut-sebut memiliki keterkaitan dengan perpanjangan figur Diego guna menyamarkan identitas serta aliran dana yang diduga terhubung dengan jaringan penimbunan BBM tersebut.

Skema ini diduga sengaja dibangun untuk menciptakan lapisan pengamanan baru, sehingga pihak-pihak utama yang berada di balik bisnis ilegal tersebut tidak tampil langsung di lapangan.

Gudang penimbunan di wilayah Tontalete disebut bukan hanya tempat penyimpanan biasa, melainkan salah satu titik strategis distribusi BBM bersubsidi yang kemudian dijual kembali dengan harga industri kepada sejumlah customer perusahaan hingga kapal-kapal SPBO.

Sumber kredibel yang berhasil dikonfirmasi media mengungkapkan bahwa pasokan BBM Bio Solar yang masuk ke gudang-gudang jaringan PT.SKL berasal dari sejumlah SPBU yang dibeli melalui para pengepul dengan harga di luar kewajaran. Dari harga subsidi Rp6.800 per liter, BBM tersebut dibeli kembali dengan harga Rp13.000 hingga Rp13.300 per liter oleh kaki tangan jaringan PT.SKL.

Selanjutnya, BBM dibawa ke gudang penimbunan sebelum dijual kembali dengan harga fantastis mencapai Rp19.000 hingga Rp23.000 per liter kepada customer industri tertentu.

Selain di Tontalete, jaringan gudang penimbunan PT. Srikarya Lintasindo juga sebelumnya terdeteksi berada di Kelurahan Madidir, tepat di belakang Markas Kodim 1310/Bitung, serta di Kelurahan Matuari depan Perumahan Bumi Bringin, Kota Bitung.

Bahkan gudang di Madidir disebut merupakan gudang lama milik PT. Karunia Mandiri Prodisa yang sebelumnya dikendalikan oleh sosok bernama Adi pemain lama mafia BBM ilegal yang kini kembali muncul dalam jaringan PT.SKL bersama figur Haji Farhan.

Lebih jauh, informasi yang beredar menyebut PT. Srikarya Lintasindo diduga hanya berlindung di balik dokumen dan INU milik PT.SKS untuk memasarkan BBM hasil timbunan dan melegalkan distribusi BBM yang diduga berasal dari “jarahan” SPBU. Dengan menggunakan dokumen milik PT.SKS, PT.SKL disebut tetap terlindungi sebagai agen transportir di bawah perusahaan tersebut.

Di tengah semakin terbukanya praktik dugaan mafia BBM subsidi ini, keterlibatan sejumlah oknum berseragam loreng TNI AD juga mulai tercium di gudang wilayah Tontalete. Dugaan itu mencuat setelah adanya informasi terkait mobilitas kendaraan tangki dan aktivitas pengamanan di sekitar gudang yang dinilai tidak lazim.

Meski belum ada keterangan resmi terkait dugaan keterlibatan oknum aparat tersebut, keberadaan jaringan yang diduga mendapat perlindungan tertentu dinilai menjadi salah satu faktor mengapa aktivitas penimbunan BBM bersubsidi dapat berjalan leluasa tanpa hambatan.

Sementara itu, Haji Nur dan Haji Farhan saat dikonfirmasi melalui pesan singkat WhatsApp terkait dugaan keterlibatan mereka dalam aktivitas gudang penimbunan BBM di sejumlah wilayah tidak memberikan jawaban hingga berita ini diturunkan.

Publik kini mendesak aparat penegak hukum, termasuk Polda Sulut dan aparat terkait lainnya, untuk segera mengusut tuntas dugaan jaringan mafia BBM subsidi yang disebut semakin terang-terangan beroperasi di Sulawesi Utara.

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *